Sejarah Haji: Dari Jejak Para Nabi hingga Kesempurnaan Syariat di Masa Rasulullah
Oleh : Wahidin Hasan
1. Jejak Awal: Haji dalam Bayangan Nabi Adam
Dalam kisah-kisah klasik Islam, ibadah haji dikisahkan bermula sejak Nabi Adam ‘alaihissalam diturunkan ke bumi. Setelah penyesalannya diterima oleh Allah, Adam diperintahkan menuju lembah Bakkah (Makkah) untuk membangun tempat ibadah pertama di bumi — Baitullah.
Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah menulis bahwa Adam melakukan tawaf di sekitar bangunan suci itu sebagaimana malaikat bertawaf di sekitar ‘Arsy. Ritual itu menjadi simbol permohonan ampun dan ketaatan manusia kepada Sang Pencipta. Tradisi ini mengakar sebagai bentuk pertama “ziarah ke rumah Allah”, meski belum bernama “haji” dalam bentuk yang dikenal sekarang.
2. Masa Nabi Ibrahim dan Ismail: Fondasi Syariat Haji
Berabad-abad setelah Adam, datanglah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim dan putranya Ismail untuk membangun kembali Ka‘bah yang telah lama tertimbun oleh waktu. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan dengan menunggang unta yang kurus…” (QS. Al-Hajj [22]: 27)
Dari sinilah haji mendapat bentuk dan maknanya yang jelas. Nabi Ibrahim dan Ismail menjadi pelopor ritual-ritual utama:
– Tawaf di sekitar Ka‘bah,
– Sa’i antara Safa dan Marwah sebagai simbol perjuangan Hajar mencari air,
– Wukuf di Arafah sebagai lambang kesatuan manusia di hadapan Tuhan,
– Menyembelih hewan kurban sebagai ketaatan total atas perintah Allah.
Maka, haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan spiritual yang mengulang kisah kepasrahan dan pengorbanan Ibrahim.
3. Para Nabi Setelah Ibrahim
Menurut sejumlah mufasir seperti Qatadah dan Mujahid (dalam riwayat yang dikutip Ibnu Katsir), para nabi setelah Ibrahim juga menunaikan ibadah haji. Nabi Hud, Nabi Saleh, dan bahkan Nabi Musa dikisahkan pernah datang ke Baitullah.
Dalam riwayat Israiliyyat disebut bahwa Musa datang ke Ka‘bah setelah membebaskan Bani Israil, melakukan tawaf dan berdoa di hadapan Ka‘bah.
Kisah-kisah ini menegaskan bahwa semangat haji bukanlah ritual yang terikat pada satu bangsa, tetapi warisan spiritual universal dari para nabi untuk menyembah Tuhan Yang Esa.
4. Masa Jahiliyah: Tradisi yang Menyimpang
Menjelang diutusnya Nabi Muhammad ﷺ, bangsa Arab tetap mempertahankan tradisi haji, tetapi telah menyimpang jauh dari tauhid.
Ka‘bah memang tetap dihormati, tetapi penuh berhala—lebih dari 360 patung memenuhi sekelilingnya. Orang Quraisy bertawaf tanpa busana dengan alasan “tidak pantas memakai pakaian yang dipakai untuk dosa”, sebagian mengubah bacaan talbiyah dengan menyebut nama-nama berhala mereka.
Ritual sa’i, wukuf, dan kurban masih dilakukan, tetapi makna penghambaan kepada Allah telah berubah menjadi seremoni adat dan kebanggaan suku.
5. Masa Nabi Muhammad ﷺ: Penyempurna Syariat Haji
Setelah risalah Islam turun, Nabi Muhammad ﷺ memurnikan kembali makna haji. Pada tahun ke-9 Hijriah, beliau mengutus Abu Bakar untuk memimpin haji pertama versi Islam.
Setahun kemudian (tahun ke-10 Hijriah), Rasulullah sendiri menunaikan Hajjatul Wada’ — Haji Perpisahan — satu-satunya haji yang beliau laksanakan setelah hijrah ke Madinah.
Dalam khutbahnya di Arafah, Nabi menegaskan prinsip-prinsip besar kemanusiaan dan keadilan:
“Wahai manusia, sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah suci seperti sucinya hari ini di negerimu ini.”
Haji disempurnakan sebagai ritual tauhid universal, bukan hanya ritual bangsa Arab. Nabi menegaskan bahwa semua manusia sama di hadapan Allah, dan haji adalah momentum penyatuan umat tanpa sekat ras, warna kulit, atau status sosial.
6. Setelah Nabi: Haji sebagai Tradisi Global
Seusai wafatnya Rasulullah ﷺ, umat Islam menjaga dan melanjutkan pelaksanaan haji. Para khalifah dan ulama mengatur perjalanan jamaah dari berbagai penjuru dunia: Andalusia, Afrika, Asia Tengah, hingga Nusantara.
Kitab Futuh al-Haramayn karya Muhi al-Din Lari (abad ke-16) menggambarkan bagaimana jamaah dari seluruh dunia Islam mulai menunaikan haji dengan panduan detail, lengkap dengan doa dan urutan ritualnya.
Kemudian, ulama seperti Imam Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Imam Ghazali menulis dimensi spiritual haji — bukan sekadar hukum fiqih, tetapi juga perjalanan menuju penyucian diri.
Dalam Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali menulis:
“Haji adalah gambaran nyata perjalanan menuju Allah; setiap langkah menuju Ka‘bah adalah langkah menuju ampunan dan kesempurnaan jiwa.”
7. Haji di Era Modern
Kini, haji menjadi ibadah global yang mempertemukan jutaan umat Islam setiap tahun. Sejak masa Khilafah Utsmaniyah hingga zaman modern, penyelenggaraan haji diatur lebih sistematis. Pemerintah Saudi membangun fasilitas, dan negara-negara Islam (termasuk Indonesia) mengatur kuota dan pembinaan jamaah.
Namun esensi haji tidak berubah: menyambung jejak para nabi dalam meneguhkan tauhid dan persaudaraan manusia.
Haji bukanlah sekadar ritual tahunan di Makkah, melainkan benang merah dari sejarah manusia dan kenabian.
Dari Adam yang pertama kali bertawaf, Ibrahim yang menyerukan panggilan haji, hingga Muhammad ﷺ yang menyempurnakan syariatnya — ibadah ini adalah simbol perjalanan spiritual umat manusia menuju keesaan Allah.
“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah…” (QS. Al-Baqarah [2]: 196)
